biografi ayah dan ibu ku
Nama: Fitri wulandary
Deskripsi Biografi: Ayah dan Ibu ku
Ayah ku bernama M.Yusuf di KTP tetapi namanya berubah di akta kelahiran ku yaitu Muhammad Yusuf. Aku sedikit binggung sih karena M. Yusuf merupakan kepanjangan dari Muhammad Yusuf, tapi kata guru ku itu berbeda. Ayah ku lahir di Kute Lintang pada tanggal 12 Desember 1968. Ia memiliki hidung yang mancung, badan yang tidak terlalu gemuk, rambut ikal, berbadan tinggi dan berkulit putih. Sedangkan ibuku bernama Kadarina lahir di Mempawah pada tanggal 18 Maret 1968. Ibuku memiliki hidung yang pesek, rambut ikal, tinggi, badan yang tidak terlalu gemuk, dan berkulit putih. Antara ayah dan ibuku, ibuku lah yang paling tua, itu pun hanya beda beberapa bulan saja. Aku memilih kedua orang tua ku dalam menulis teks biografi karena tidak adil rasanya, karena dimana ada ayah ku disitu pula ada ibuku.
Ayah dan ibuku menikah dan lahirlah enam orang anak. Mereka mendidik anak-anaknya dengan sabar, setiap anak memiliki karakter yang berbeda-beda begitu pula dengan kami. Anak pertama dengan lemah lembutnya, anak kedua dengan tegasnya, anak ketiga dengan keras kepalanya, anak keempatnya dengan penurut dan sedikit keras kepala, anak kelimanya dengan cengeng nya, dan anak keenam dengan sifat manja nya, pemarahnya, dan keras kepalanya. Tetapi kedua orang tua ku berhasil mendidik dan membesarkan ke enam anak tersebut. Ibuku dan ayah ku memiliki sifat yang hampir sama yaitu sifat sabar.. sangat sabar malah, penyayang, cerewet dan terkadang suka marah-marah. Sifat sabarnya ibu banyak bebearapa kali ibu diuji dengan yang namanya sifat sabar mulai dari diremehin orang, tidak disukai orang termasuk mertua, dan tiap malam nagih hutang mau hujan-hujanan atau pun lagi tidak enak badan ibuku tetap nagih, mendatangi orang itu kepasar hanya meminta uangnya sebesar Rp 200.000 dari hutang orang tersebut sebesar Rp 70 juta. Ibu ku pernah dikatain orang dikarenakan ibuku nagret getah “ nak ngelap getah ke Teh, hujan-hujan maseh nak ngaret getah” ibuku pun menjawab “ iya pak sam, anak kamek banyak yang nak kamek kasih makan” dengan senyum ibuku menjawab itu, tetapi hatinya sakit sangat sakit. Dikarenakan ayah ku rajin, jadi dia setiap harinya menebas rumput-rumput liar di sekita kebun getah ibuku. Sabar dengan anak nya yang malas aku paling ingat nasehat yang pernah ibuku ucapkan “ Nak… bukan waktu yang ngatur kita, tapi kita yang ngatur waktu” itu aku ingan benar, karena aku dulu malas dan suka nya main Hp nasehat itu pun keluar. Ibuku memiliki 1001 cara menasehatin anak-anaknya, sabar dalam mendidik anak-anaknya. Dan ibuku menteri ekonimi yang paling jago di keluarga kami, karena ibuku sangat-sangat pandai dalam mengatur keuangan, ibuku pernah berkata “ hidup senang tak perlu kau pelajarin, hidup susah nah harus kau pelajarin. hidup senang tak perlu dipelajarin, tetapi hidup susah nah. Gimana susahnya mencari uang. Dapatkan uang sebesar Rp 100.000 jak susah tapi kalau hidup senang ngabisin uang Rp 100.000 tak sampai 2 jam”. Sedangkan ayah ku, dia sangat tegas kepada anak-anaknya, protektif, keras kepala, sabar dan royal kepada anak-anaknya. Tegas ayah ku apabila dia berkata “ fitri tak usah jalan” maka hasilnya tak akan jalan, biar anaknya mujuk kayak apa tetap keputusan pertama. Protektif sifat ayah ku yang ini, sangat-sangat aku sukai karena apabila aku ada tugas kelompo jak 7 perginya tetapi sampai jam 8 tidak pulang maka siap-siap Hp berdering terus seperti “ fitri kapan pulang” nanti gak lama lagi nelpon lagi “ kapan selesainya kerje kelompok tuh?” dan puncaknya kalau jam 10 malam belum pulang maka siap-siap kena jemput “ udah jam 10 malam ni, kapan pulang. Biar bapak jempu jak? Lama benar” dari situ cerewet ayah ku keluar. Aku suka sifat ayahku seperti itu, karena aku merasa kayak di anak emaskan padahal aku dan saudara-saudara ku sama. Satu lagi sifat ayah ku yaitu sangat-sangat setia kepada ibuku, ibarat kata dimana ada ibu ku maka disitu juga ada ayah ku. Apabila ayah ku hendak pergi keluar baik itu kerumah temannya, kepasar, mengisi bensin sampai kerumah anak angkatnya aja harus bawa ibu ku. Pernah satu kejadian ketika ayah ku mengajak ibuku ke rumah anak angkatnya dan ibuku tidak mau. “Dek,, ketempat trisno yok?” ibu ku menjawab “ Endak lah pak, capek. Pergi dengan iwan jak bah” jangan kira ayah ku mau pergi sama anaknya, maka jawabanya “ endak lah, istirahat jak” lucu sih. Dan ayahku orang nya cemburu. Pernah ada orang yang berkata seperti ini sama ibu ku “ masih cantik ibu ni pak” mulai dari situ ibuku dilarang keluar karena takut dibilang seperti itu lagi. Apabila ingin pergi, maka harus bersama ibu ku. Ayah dan ibuku suka sekali memberi sebuah petuah atau nasehat-nasehat untuk anaknya dari “ mamak dan bapak enggak bakalan ninggalin harta warisan untuk kita (anak-anaknya) tetapi bapak sama mamak ninggalin ilmu untuk kita, harta warisan bise habis kalau tak digunakan dengan ilmu, harta warisan bisa menimbulkan konflik, sedangkan ilmu tak bakalan bisa habis-habis sampai kau punya cucu,cicit atau pun udah ujur” itu salah satu nasehat yang berbekas di ingatan ku, bukan hanya itu ayahku pernah berkata “ kalian pernah liat bapak berkelahi sama mamak, kalian pernah liat bapak berjalan tanpa mamak “ kami jawab tidak, ayah ku berpesan lagi “ kalau kita udah berkeluarga jagan pernah kita berkelahi depan anak-anak kita, teriak depan anak-anak kita. Kalau punya masalah dalam rumah tangga kalian selesai kan dengan kepala dingin, jangan dengan emosi. Ingat anak-anak kita” bukan hanya itu ibuku pernah juga berpesan “ kalau kau ( untuk anak mamak yang belum menikah) kalau mencari imam atau suami jangan liat rupanya, hartanya tapi liat lah akhlaknya, sifatnya bagaimana ibadahnya. Rajin gak dia dalam beribadah, rajin kerja, dan bukan lelaki kasar. Kalau kau cari yang banyak duet nye itu tak bise menjamin kau kedepannya, tapi kalai kau mencari akhlaknya bagus, iman nya bagus dan agamanya bagus itu bise memnjamin masa depan kau, membimbing kau kejalan yang benar, bisa membimbing kau kedalam syurga nya Allah kalau soal harta itu bonus untuk kau. Kayak bapak kau, bapak kau tak pernah kasar dengan mamak, baik dalam agama maupun akhlak dan tak pernah mukul mamak.” Itu adalah beberapa nasehat dari ibu dan ayah saya yang saya ingat. Ayah dan ibu saya tidak memanjakan kami dengan harta hanya untuk buat kami senang tetapi mereka mempunya cara tersendiri membuat kami tertawa terbahak-bahak, bergembira dan seperti tidak mempunyai masalah di hidup ini. Ya itu kedua orang tua ku, orang yang sangat sabar, baik, dan saying sama anak-anak nya.
Sekian yang dapat saya tulis, apabila ada kata-kata yang kasar atau tidak enak dibaca saya mohon maaf.
Terima kasih
Komentar
Posting Komentar